Tema kali ini, minuman serba mangga… mumpung ada mangganya! Karena nggak selalu ada, jadi mangga-nya dieman-eman, dijadiin bahan beberapa jenis minuman, emmm..ngirit apa pelit ya?? hee…
Btw, monggo… dicicip…
ES MANGGA KUAH SIRSAK
- Bahan :
Mangga matang (aku pake mangga indramayu)
Nutrijel rasa stroberi
Buahvita rasa sirsak
Es batu - Cara :
Mangga matang, dipotong dadu. Nutrijel dimasak, didinginkan, dan diparut. Masukkan dalam gelas, tuangi dengan kuah sirsak. Tambahkan es batu. - Hasilnya :
Gambar di atas itulah es mangga tapi kuahnya rasa sirsak, ternyata nyambung juga lho…. boleh pake es prongkol atau es serut, tapi karena di rumah lagi ada yang nggak sehat, jadi aku bikinnya tanpa es, trus masukin kulkas aja sekitar 1-2 jam, jelang maghrib dikeluarin. Biar nuansa sejuk-nya masih ada.
JUS TIUNG MANGGA
-
Bahan :
Mangga matang
Tiung/terong belanda matang
Nutrijel stroberi
Kolang-kaling
Gula pasir
Air (untuk memasak nutrijel) -
Cara:
Mangga dikupas, potong2, diblender. Tiung dikerok pakai sendok, diblender (disarankan menambah gula, karena tiung rasanya relatif asam+kecut). Kolang-kaling diblender. Susun dengan urutan: tiung-mangga- nutrijel-kolang-kaling. Sebelum disajikan, masukkan kulkas dulu, sekitar 1-2 jam.
Gambar di atas, lebih tepat disebut jus, soalnya nggak ada penambahan air di sana, daging buah asli. Unik, karena pake tiung atau terong belanda, buah khas dari batak area. Lumayan, bisa jadi obat kurang darah juga.
JUS PLUM MANGGA
Mangga matang
Plum merah
-
Bahan :
-
Cara:
Mangga dikupas, potong2, diblender. Sebagian plum dikerok memakai sendok kerok khusus yang bisa membentuk jadi bulatan2 kecil. Sisa plum yang lain diblender biasa. Tuang ke dalam gelas dengan urutan : mangga-plum-mangga+bulatan plum.
Ini masih berupa jus juga, hasil blender. Bisa dikatakan ini hasil sisa. Memanfaatkan stok plum+mangga yang terakhir. Maaf, hasil foto kurang sempurna, lupa membuka tutup gelasnya, hehe, jadi bulatan plum tidak jelas. Rasanya? Nayamul….
Ya, ini posting tentang lontong. Bukan istilah, bukan singkatan, tapi bener2 lontong dalam arti sesungguhnya. Menorehkan pesan moral yang dalam…(hihihi…)
Lebaran dah di depan mata, waktu itu. Beberapa hari sebelumnya, swami dah beberapa kali rasan-rasan pengin maem ketupat, minimal lontonglah. Karena menurut ceritanya, di rumah ibunda tercinta biasanya selalu tersedia makanan itu. Ya, tahun ini kami tidak mudik. Hmmm… bukannya sok baik, tapi antara penasaran, kepengin, eh…sukur-sukur bisa menyenangkan hati swami, sekali-sekali. Tapi apa daya….membayangkan caranya bikin lontong pun sungguh membuat pusiiiing bagiku!!! Sosok putih berbaju ijo dengan sematan lidi di kedua ujungnya ibarat soal kuis genetika dasar pas kul (asal tau aja ya, aku juaraaang dapat nilai di atas D, kikikiiiik..).
Iseng-iseng aku tanya sama si mbok, cara bikinnya. Dia bilang minimal masak 4 jam, harus pas ngisinya. Aku sms seorang sahabat yang dah terlatih bantuin kakaknya masak, katanya 6 jam. Dari info berbagai sumber yang kukumpulkan, kesimpulannya membuat lontong itu suliiiiit. Swami pun sempet membuatku kecil hati dengan mengatakan: mbungkus lontong lebih susah daripada ketupat lho.. Aku prefer lontong, karena di samping rumah banyak P2BA alias pohon pisang bebas ambil :D. Untuk ketupat, ampun deeeh… belum berani memikirkannya!
Well, setelah menata hati dan kondisi diri, kucoba beranikan diri untuk maju sebagai pejuang lontooong! Ya, aku ga akan sanggup menanti 6 jam. Selain pegel, ya boros bahan bakar :p. Jadi dengan mengutak-utik dan merangkum resep dari beberapa input, jadilah lontong perjuangan dalam waktu 2 jam. Emang sih….hasilnya mungkin belum sempurna, tapi lumayanlaaaah….buat temen makan sambel goreng + opor… monggo disimak, terutama buat para sesama pemula, pesanku : jangan percaya hasutan hati bahwa bikin lontong itu susah….hihi…njuk nggaya i!
Spesial tuk bonski/ninok/retnow…thank’s 4 supporting me. See? I did it!
Sumonggo…
Bahan:
Beras, banyaknya sesuai kebutuhan
Air
Daun salam, secukupnya
Daun pisang
Lidi
Cara:
Beras dimasak bersama daun salam, sampai jadi nasi aron. Diamkan sejenak,sampai agak dingin.
Ambil daun pisang, gulung membentuk selongsong lontong diameter kurleb 3 cm, kunci salah satu ujung dengan lidi. Isi selongsong dengan nasi. Sedikit-sedikit, pelan-pelan (pasti bisa!). Rebus dalam air. Usahakan seluruh lontong terendam air. Kalau air menyusut, tambahkan saja.
Setelah kurleb 2 jam, angkat lontong, tiriskan. Tunggu dingin, lalu potong-potong.
Gambar sebelah kiri disebut lontong wannabe ^_^, karena saat itu ‘perasaanku tidak enak’ jadi lontong ditali dengan pinggiran daun pisang. Hasilnya? Dari 8 lontong yang dibikin, yang 2 teteeeep….jebol, hehe.
Gambar sebelah kanan disebut lontong. Kalo mau efek ijo pada badan luar lontong, jangan lupa si daun pisang dibalik (yang licin di dalam). Kalo mau efek coklat seperti ketupat, ya sebaliknya (yang licin di luar).
Tidak terasa sudah hampir 1,5 tahun tinggal di sini. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, bisa tinggal sejauh ini dari rumah. Yaa…awal2 dulu… ngaku deeh….sempat nangis2 mringis kalo ditinggal swami dinas. Apalagi kalo pas mati lampu plus. Iya, plus ujan deresssss. Apalagi, kalo denger cerita2 orang yang lebih dulu tinggal di sini…hiiiiiiii…pengalamannya serem2. Udah makanannya nggak ada yang ‘pas’ di lidah (maklum, waktu masih lajang doyan jajan), sepi, nggak ada mall (paling gede : Ramayana), dan masih banyak lagi yang bikin merana. Tapi dibalik semuanya, proses adaptasi juga sering menimbulkan keunikan dan kegelian+ hiburan tersendiri, yang tidak di dapatkan di Jawa. Salah satunya tentang bahasa. Sebagai catatan, penduduk di sini banyak sekali yang bersuku ‘Jawa Deli’, mereka bisa berbahasa jawa (kasar/ngoko) karena nenek moyangnya dulu, konon, orang Jawa asli. Sebagai orang baru, aku merasa harus hati-hati dalam berbicara atau menyimak. Anehnya, aku juga merasa PD untuk ngomong dengan orang-orang di sini, secara, aku orang Jawa asli gitu loooh! Aku yakin banget bakal tidak mengalami kendala dalam berbahasa. Ternyata aku salah. Ini ada beberapa cerita kebingunganku.
Teeet….teeeeet….seperti biasa, jam 9-an, wak sayur membunyikan klakson motornya, berhenti di samping rumah. Rumah kami berjarak ± 100 m dari pos hansip.
“ Mau isuk omonge onok sing berlanggar neng ngarep pos?”
“Ha?” aku nggak jelas wak ini ngomong apa, jadi berharap dia mengulangi.
“ Iku…mau isuk omonge onok sing berlanggar neng ngarep pos”
“Ooo…“ (sok paham, sambil milih-milih sayur)
“Omonge sing ibuk2 pingsan”
“Lho???”
“Iyo, tapi gak popo uwonge, cuma kaget aja, kurasa”
“Lho? Jadi? Maksudnya? Kok bisa pingsan?? Knapa?”
“Iyo, berlanggar, numpak kreto (sepeda motor)…”sambil menyilangkan tangannya.
“Woalah…tabrakan???????????”
“Iyo..iyo…tabrakan”
“Ooooo…..”
Hihi…dari tadi kemana aja, Buuu?
Catet, na: berlanggar=tabrakan
Satu lagi.
Ceritanya, siap lebaran para asissten of the house (AOH) di komplek kami pada balik kerja (oya, siap di sini berarti “selesai” lho ya). Termasuk AOH-nya tetangga terdekat kami. Dia memang sering ndulang anak yang dimomongnya di rumah kami sambil ndolanin Hanun. Seusai lebaran, masih seperti biasa, pagi-pagi mereka maen ke rumah. Setelah beberapa waktu, si anak merengek minta pulang, si AOH buru-buru mencari dan menyalamiku, sambil bilang : “Minta izin ya, Bu”. Dan seperti biasa, aku hanya menjawab ” ooo…ya”.
Setelah kepergiannya aku bingung dengan apa yang dikatakannya tadi. Minta izin untuk apa? Kan dia bukan AOH-ku, knapa minta izin denganku? Hmm..aku lalu teringat sesuatu, saat AOH kami, hari pertama masuk kerja, langsung menyalamiku dengan berkata “Minta izin yo, Bu” saat itu akupun bingung, tapi tertutup dengan perkataan spontanku ” maaf lahir batin ya, mbok.” Saat itu aku terbersit pikiran, si mbok ini minta izin atas libur lebarannya selama seminggu, jadi it’s OK lah.. Ternyata minta izin = maaf lahir batin toh!!! Masih buaanyak lagi, keunikan bahasa mereka. Mereka mengistilahkan olahraga itu dengan spot (sport kaleeeee..). Dalam perkumpulan ibu-ibu, aku sering sekali terbalik-balik menyebut talam untuk tilam atau tilam untuk talam. Ingin berbelanja? Datanglah ke pajak. Karena kalo menyebut pasar, akan cuma diantarkan ke jalan besar saja. Tahu sebutan untuk jalan aspal? Pasar hitam…*pening mode on*
Btw, jangan sampai salah sebut motor untuk sepeda motor lho. Karena bagi mereka motor itu kendaraan roda 4 yang tidak mewah. Sedangkan mobil itu adalah motor yang mewah. Sepeda motor? tentu saja disebut kereta. Hihihi…
Ooo…ya.
Ho oh.
Iyo, yo.
Entah kenapa, jawaban-jawaban ini yang sering kugunakan untuk menutupi kebingunganku saat ngobrol dengan orang Jawa Deli. Bisa disebut gengsi bertanya, secara aku merasa orang Jawa. Padahal seharusnya tidak boleh begitu. Hmmm…indahnya bhinneka tunggal ika…(halah!).




