-Lg ngapain, Na?-
-Lg masak, bentar lg swami pulang-
Ha?…wait.
Sampai sekarang aku masih sering geli nulis/bilang kata masak ,di sms/ telpon kayak cuplikan di atas. Sering tidak yakin kalo yang sedang kulakukan adalah memasak. Bahkan saking tidak yakinnya, aku sering menghindari menulis di sms, kata “masak“. Aku lebih nyaman nulis: lagi “ngrendam daging”, “ goreng bawang“, “potong tempe” atau apalaah…yang kira-kira orang menganggap aku sedang melakukan hal yang wajar seperti “mengetik tugas” atau “maen game”. Hihihi… rumit.
Ya, aktivitas yang satu ini, bagiku-jujur- tidak wajar, mengingat sampai sesaat sebelum nikah, aku terhitung jarang masuk dapur, dalam arti me-ma-sak, lewat sih sering… Secara, ibuku selama ini tidak antusias mengajari putri2nya untuk pandai masak, kecuali kalo kami bertanya. Itupun hanya untuk keperluan pramuka pas SD, tugas boga di SMP ato bikin program di KKN.
Pas kuliah…banyak kejadian yang bikin aku malu sendiri, misalnya waktu maen ke kost-an temen2…aku cuma bisa bengong mengamati mereka yang lihai sekali dalam memainkan sothil ato meracik bumbu (dalam hati: bikin nasi goreng pun, aku lupa bum bunya!). Parahnya, suatu hari, seorang sahabat mengajakku belanja di warung Terban, di sana ketauan kalo aku ga bisa mbedain daun kangkung sama daun ‘mbayung (alias daun kacang panjang), selain malu padanya, jelaaaas…malu juga pada si penjual ![]()
Well…kesimpulannya… harus ada proses. Proses itu namanya belajar. Kusadari sesaat sebelum melaksanakan separo dien ini. Walaupun, sejak awal aku sudah bilang pada calon swami, I can’t cook, so just lets buy lawuh, everyday, pliiiiss….?
Kesadaran itu menjadi suatu kebutuhan, saat aku sampai di bumi batak ini. Bayanganku tentang warung2 makan atau pasar yang menyediakan masakan siap beli-siap santap selayaknya di Jogja pupus sudah. Warung sih ada…tapi masakannya itu loh…di sana santan di sini santan, cabe di mana2..
Ga ada oseng2 tempe…sup jagung… bubur…? soto ayam?? Ah, tidaaaaaak…! Selain itu, penampilan warung2, relatif kurang meningkatkan selera makan (kalo tidak boleh dibilang kumuh ^_^).
So, atas nama memenuhi panggilan perut dan mempertahankan hidup di perantauan, aku harus memberanikan diri masuk dapur. Rasanya belum terlambat mengenal lebih dekat bentuk merica, ketumbar, kemiri, jahe, laos, dkk. Tdk lupa untuk mengumpulkan primbon resep, dari berbagai sumber.
Seru, lucu, kadang puas, kadang sediiih… kalo inget saat jumpalitan di dapur, dari jerat jerit kecripatan minyak…ato dinding dapur mendadak hitam krn semburan tinta cumi.
Beberapa hasil masakan, sempat ku dokumentasikan…buat yang sudah ahli masak mohon dimaafkan kalo banyak penyimpangan dari wujud yang semestinya, mohon masukan dan harap dimaklumi…
Buat yang sama2 lagi belajar… share yuk…moga bermanfaat.
Assalamu’alaikum wr wb. pa kabar? lupa ma saya? udah punya suami skrg tambah pinter masak ya
salam persaudaraan from abu musa
26 October 2008 @ 11:47ck … ck … ck …
29 October 2008 @ 22:29hebat nana