hear and being heard
<

 

Tidak terasa sudah hampir 1,5 tahun tinggal di sini. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, bisa tinggal sejauh ini dari rumah. Yaa…awal2 dulu… ngaku deeh….sempat nangis2 mringis kalo ditinggal swami dinas. Apalagi kalo pas mati lampu plus. Iya, plus ujan deresssss. Apalagi, kalo denger cerita2 orang yang lebih dulu tinggal di sini…hiiiiiiii…pengalamannya serem2. Udah makanannya nggak ada yang ‘pas’ di lidah (maklum, waktu masih lajang doyan jajan), sepi, nggak ada mall (paling gede : Ramayana), dan masih banyak lagi yang bikin merana. Tapi dibalik semuanya, proses adaptasi juga sering menimbulkan keunikan dan kegelian+ hiburan tersendiri, yang tidak di dapatkan di Jawa. Salah satunya tentang bahasa. Sebagai catatan, penduduk di sini banyak sekali yang bersuku ‘Jawa Deli’, mereka bisa berbahasa jawa (kasar/ngoko) karena nenek moyangnya dulu, konon, orang Jawa asli. Sebagai orang baru, aku merasa harus hati-hati dalam berbicara atau menyimak. Anehnya, aku juga merasa PD untuk ngomong dengan orang-orang di sini, secara, aku orang Jawa asli gitu loooh! Aku yakin banget bakal tidak mengalami kendala dalam berbahasa. Ternyata aku salah. Ini ada beberapa cerita kebingunganku.

 

Teeet….teeeeet….seperti biasa, jam 9-an, wak sayur membunyikan klakson motornya, berhenti di samping rumah. Rumah kami berjarak ± 100 m dari pos hansip.

“ Mau isuk omonge onok sing berlanggar neng ngarep pos?”

“Ha?” aku nggak jelas wak ini ngomong apa, jadi berharap dia mengulangi.

“ Iku…mau isuk omonge onok sing berlanggar neng ngarep pos”

“Ooo…“ (sok paham, sambil milih-milih sayur)

“Omonge sing ibuk2 pingsan”

“Lho???”

“Iyo, tapi gak popo uwonge, cuma kaget aja, kurasa”

“Lho? Jadi? Maksudnya? Kok bisa pingsan?? Knapa?”

“Iyo, berlanggar, numpak kreto (sepeda motor)…”sambil menyilangkan tangannya.

“Woalah…tabrakan???????????”

“Iyo..iyo…tabrakan”

“Ooooo…..”

 

Hihi…dari tadi kemana aja, Buuu?
Catet, na: berlanggar=tabrakan 

Satu lagi.
Ceritanya, siap lebaran para asissten of the house (AOH) di komplek kami pada balik kerja (oya, siap di sini berarti “selesai” lho ya). Termasuk AOH-nya tetangga terdekat kami. Dia memang sering ndulang anak yang dimomongnya di rumah kami sambil ndolanin Hanun. Seusai lebaran, masih seperti biasa, pagi-pagi mereka maen ke rumah. Setelah beberapa waktu, si anak merengek minta pulang, si AOH buru-buru mencari dan menyalamiku, sambil bilang : “Minta izin ya, Bu”. Dan seperti biasa, aku hanya menjawab ” ooo…ya”.

Setelah kepergiannya aku bingung dengan apa yang dikatakannya tadi. Minta izin untuk apa? Kan dia bukan AOH-ku, knapa minta izin denganku? Hmm..aku lalu teringat sesuatu, saat AOH kami, hari pertama masuk kerja, langsung menyalamiku dengan berkata “Minta izin yo, Bu” saat itu akupun bingung, tapi tertutup dengan perkataan spontanku ” maaf lahir batin ya, mbok.” Saat itu aku terbersit pikiran, si mbok ini minta izin atas libur lebarannya selama seminggu, jadi it’s OK lah.. Ternyata minta izin = maaf lahir batin toh!!! Masih buaanyak lagi, keunikan bahasa mereka. Mereka mengistilahkan olahraga itu dengan spot (sport kaleeeee..). Dalam perkumpulan ibu-ibu, aku sering sekali terbalik-balik menyebut talam untuk tilam atau tilam untuk talam. Ingin berbelanja? Datanglah ke pajak. Karena kalo menyebut pasar, akan cuma diantarkan ke jalan besar saja. Tahu sebutan untuk jalan aspal? Pasar hitam…*pening mode on*

Btw, jangan sampai salah sebut motor untuk sepeda motor lho. Karena bagi mereka motor itu kendaraan roda 4 yang tidak mewah. Sedangkan mobil itu adalah motor yang mewah. Sepeda motor? tentu saja disebut kereta. Hihihi…

Ooo…ya.
Ho oh.
Iyo, yo.
Entah kenapa, jawaban-jawaban ini yang sering kugunakan untuk menutupi kebingunganku saat ngobrol dengan orang Jawa Deli. Bisa disebut gengsi bertanya, secara aku merasa orang Jawa. Padahal seharusnya tidak boleh begitu. Hmmm…indahnya bhinneka tunggal ika…(halah!).

October 23rd, 2008 at 07:04


One Response to “Mari Belajar Berbahasa…”
  1. 1
      retno says:

    hehehe … lucu …