Ya, ini posting tentang lontong. Bukan istilah, bukan singkatan, tapi bener2 lontong dalam arti sesungguhnya. Menorehkan pesan moral yang dalam…(hihihi…)
Lebaran dah di depan mata, waktu itu. Beberapa hari sebelumnya, swami dah beberapa kali rasan-rasan pengin maem ketupat, minimal lontonglah. Karena menurut ceritanya, di rumah ibunda tercinta biasanya selalu tersedia makanan itu. Ya, tahun ini kami tidak mudik. Hmmm… bukannya sok baik, tapi antara penasaran, kepengin, eh…sukur-sukur bisa menyenangkan hati swami, sekali-sekali. Tapi apa daya….membayangkan caranya bikin lontong pun sungguh membuat pusiiiing bagiku!!! Sosok putih berbaju ijo dengan sematan lidi di kedua ujungnya ibarat soal kuis genetika dasar pas kul (asal tau aja ya, aku juaraaang dapat nilai di atas D, kikikiiiik..).
Iseng-iseng aku tanya sama si mbok, cara bikinnya. Dia bilang minimal masak 4 jam, harus pas ngisinya. Aku sms seorang sahabat yang dah terlatih bantuin kakaknya masak, katanya 6 jam. Dari info berbagai sumber yang kukumpulkan, kesimpulannya membuat lontong itu suliiiiit. Swami pun sempet membuatku kecil hati dengan mengatakan: mbungkus lontong lebih susah daripada ketupat lho.. Aku prefer lontong, karena di samping rumah banyak P2BA alias pohon pisang bebas ambil :D. Untuk ketupat, ampun deeeh… belum berani memikirkannya!
Well, setelah menata hati dan kondisi diri, kucoba beranikan diri untuk maju sebagai pejuang lontooong! Ya, aku ga akan sanggup menanti 6 jam. Selain pegel, ya boros bahan bakar :p. Jadi dengan mengutak-utik dan merangkum resep dari beberapa input, jadilah lontong perjuangan dalam waktu 2 jam. Emang sih….hasilnya mungkin belum sempurna, tapi lumayanlaaaah….buat temen makan sambel goreng + opor… monggo disimak, terutama buat para sesama pemula, pesanku : jangan percaya hasutan hati bahwa bikin lontong itu susah….hihi…njuk nggaya i!
Spesial tuk bonski/ninok/retnow…thank’s 4 supporting me. See? I did it!
Sumonggo…
Bahan:
Beras, banyaknya sesuai kebutuhan
Air
Daun salam, secukupnya
Daun pisang
Lidi
Cara:
Beras dimasak bersama daun salam, sampai jadi nasi aron. Diamkan sejenak,sampai agak dingin.
Ambil daun pisang, gulung membentuk selongsong lontong diameter kurleb 3 cm, kunci salah satu ujung dengan lidi. Isi selongsong dengan nasi. Sedikit-sedikit, pelan-pelan (pasti bisa!). Rebus dalam air. Usahakan seluruh lontong terendam air. Kalau air menyusut, tambahkan saja.
Setelah kurleb 2 jam, angkat lontong, tiriskan. Tunggu dingin, lalu potong-potong.
Gambar sebelah kiri disebut lontong wannabe ^_^, karena saat itu ‘perasaanku tidak enak’ jadi lontong ditali dengan pinggiran daun pisang. Hasilnya? Dari 8 lontong yang dibikin, yang 2 teteeeep….jebol, hehe.
Gambar sebelah kanan disebut lontong. Kalo mau efek ijo pada badan luar lontong, jangan lupa si daun pisang dibalik (yang licin di dalam). Kalo mau efek coklat seperti ketupat, ya sebaliknya (yang licin di luar).


weeeiiisss … keren!!!
29 October 2008 @ 22:27waah…resepe keren-keren mbak, boleh nich dicoba kapan2, hehehe. Btw kenalin, Saya temennya mas wawan di kampung Wage, kemaren sengaja minta dikenalin sama istri tercintanya, hihihi….dan setelah lihat foto mba, saya kaget, koq mbak mau sich sama mas wawan, hehehehe (ga ding, becanda). Kalo pas senggang add aku di fb or fs ya mbak ada bojoku juga disitu..hehe..
24 January 2009 @ 02:03wss
@retno : Thx say… tak tunggu tips2 kerenz yg lain darimyuuu…
31 January 2009 @ 22:15@nuzul : Tengkyu mbak,msh belajar neeh…monggo dicobak…salam kenal balik. Kok mau sm ms wwan? Ha piye meneh mbak…dah terlanjur,wis ketiwasan,mpun kebacut…:D Oke, ati2 di Wage ya mbak, titip bojoku, yen nakal dijewer wae…:)